LINOCUT PRINT ON MERCHANDISE

Membicarakan seni cetak atau printmaking tentunya akan membawa imajinasi kita masuk kedalam karya-karya cetak konvensional yang diaplikasikan pada selembar kertas dengan identitas edisi cetak, teknik, judul dan tahun pembuatan yang kemudian dibingkai secara rapih dan dipajang di sebuah galeri.  Namun printmaking hari ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan era yang lampau, dimana karya-karya seni cetak semakin membumi dan nyata hadir didalam kehidupan keseharian kita.

Salah satu teknik dalam printmaking yang mungkin sudah biasa kita dengar dan gunakan produknya adalah silk creen / screen printing atau yang lebih dikenal dengan teknik sablon. Sablon sebagai sebuah teknik cetak sudah menjadi bagian dari keilmuan yang membumi  dan masih cukup eksis di masayarakat Indonesia. Kehadiran teknik sablon ini menjadi bagian pelengkap artefak kebudayaan masyarakat Indonesia dalam aspek sandang (busana/pakaian) dimana setiap orang sangat membutuhkan media penutup tubuh yang tidak hanya sekedar menutupi tapi mampu memberikan kepercayaan diri bagi penggunanya untuk tampil secara modis dengan tambahan motif, visual atau tulisan yang melekat pada apa yang dikenakan. Teknikal cetak sablon hadir memberikan warna tersendiri pada aspek sandang yang kita gunakan hari ini dan membangun perekonomian masyarakat pada bidang home industry fashion seperti distro, factory outlet, butik dan lain sebagainya. Sebagai sebuah teknik cetak yang sangat aplikatif sablon memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat kita hari ini dan secara teknis semakin berkembang dan mendorong hadirnya teknikal cetak baru yang mampu berkolaborasi dengan teknologi yang terbaharukan seperti DTG (direct to garment) dan fabric printing.

Ditengah perkembangan teknik cetak sablon hari ini muncul juga sebuah teknik lama pada seni cetak tinggi yaitu linocut print yang mulai merambah pada sektor kebutuhan sandang yang sifatnya menjadi sebuah life stlye baru dalam dunia fashion dan Merchandise. Linocut print merupakan sebuah teknik cetak cukil yang menggunakan master plat acuan berbahan rubber lino sebagai media transfer gambar. Teknik ini merupakan varian dalam teknik cetak tinggi seperti cukil kayu / woodcut block print yang mungkin lebih familiar kita dengar. Pembeda dari kedua teknik ini adalah terletak pada bahan master plat acuannya saja sedangkan prinsip cetak yang digunakan masih sama. Jika kita hari ini mencoba melihat fenomena di soscial media seperti instagram, facebook, dan pinterest banyak sekali seniman, desainer bahkan pelaku kreatif lainya yang melakukan aktivitas kreasi menggunakan teknik cetak cukil lino. Namun yang menarik untuk dicermati dari fenomena ini adalah munculnya medium aplikasi linocut print baru pada produk-produk merchandise seperti kaos, totebage, pouch, stiker dan lain sebagainya yang tidak lazim digunakan pada teknik cetak tinggi pada umumnya.

 

Contoh Produk Linocut Print on Merchandise. sumber: Dokumentasi Emmanuel Putro P

Seperti halnya sablon linocut print hari ini telah merambah kedalam sektor sandang khususnya pada produk merchandise sebagai sebuah life style baru penunjang generasi milenial dalam berbusana. Tidak hanya itu saja namum juga bermunculan para pelaku kreatif dalam bidang ini yang mencoba mengkomersialisasikan teknik cetak ini dari aspek keilmuan berupa workshop singkat mencukil hingga memproduksi masal visual dengan pendekatan teknik cetak lino ini.

 

Contoh Produk Linocut Print on Merchandise. sumber: Dokumentasi Emmanuel Putro P

Seperti halnya sablon, linocut print juga memiliki fleksibilitas tinggi dalam pengaplikasiannya pada medium merchandise sehingga teknik ini semakin diminati dan berkembang pesat di masayarakat Indonesia. Secara teknik proses cetak linocut print pada media merchandise sama seperti mencetaknya di selembar kertas hanya saja diperlukan tambahan mesin press manual untuk mentrasfer visual ke media merchandise yang diinginkan. Kenapa dibutuhkan mesin press manual dalam proses ini, sebab media-media merchandise biasanya memiliki tekstur bahan yang lebih besar contohnya totebage sehingga membutuhakan tekanan yang relatif lebih kuat dan stabil untuk menghasilkan visual dengan tinta yang lebih rata dan meyerap pada bagain pori-porinya. Untuk jenis cat yang digunakan pada teknik linocut print on merchandise ini memang terbilang khusus, sebab bukan menggunakan cat offset biasa yang berbasis minyak melainkan fabric ink berbasis air yang memiliki daya meresap yang tinggi pada jenis kain/kanvas dan tidak mudah luntur.

 

Contoh Mesin Press Manual. sumber: Dokumentasi Emmanuel Putro P

Demikian sedikit pemaparan perkembangan yang terjadi pada dunia seni cetak / printmaking kuhususnya pada teknik cetak tinggi linocut print yang masih terus berjalan dan semakin diminati oleh masyarakat di Indonesia hari ini. Untuk detai proses tahapan pengaplikasian cetaknya akan dibahas pada tulisan berikutnya. Terima kasih, salam Print Is Not Dead!

Emmanuel Putro Prakoso