Ketika mendengar UI/UX, kita mungkin membayangkan aplikasi, website, tombol, dan tampilan digital. Sementara DKV identik dengan poster, logo, ilustrasi, tipografi, dan branding. Sekilas berbeda, tetapi keduanya memiliki hubungan yang erat. DKV membangun bahasa visual, sedangkan UI/UX menerapkannya dalam produk dan pengalaman digital.

Apa Itu DKV?

Desain Komunikasi Visual (DKV) mempelajari bagaimana pesan disampaikan melalui elemen visual seperti warna, tipografi, layout, ilustrasi, fotografi, simbol, dan komposisi. Tujuannya bukan sekadar membuat desain menarik, tetapi membantu audiens memahami pesan, merasakan sesuatu, atau melakukan tindakan tertentu.

Apa Itu UI/UX?

UI (User Interface) berfokus pada tampilan dan elemen antarmuka, seperti tombol, menu, icon, typography, warna, card, form, dan navigasi.

Sementara UX (User Experience) membahas keseluruhan pengalaman pengguna:

  • Apakah produk mudah digunakan?
  • Apakah informasi mudah ditemukan?
  • Apakah alurnya jelas?
  • Apakah pengguna merasa nyaman atau bingung?

Sederhananya: UI berbicara tentang interface, UX berbicara tentang experience.

Di Mana DKV dan UI/UX Bertemu?

Banyak prinsip dasar DKV digunakan dalam UI design.

Typography membantu membangun hierarchy dan keterbacaan.
Color membangun identitas sekaligus menunjukkan status atau prioritas.
Layout mengatur struktur informasi.
Visual hierarchy mengarahkan perhatian pengguna.
Iconography membantu menyederhanakan informasi.

Jadi, UI design sebenarnya memiliki fondasi yang kuat dalam prinsip-prinsip DKV. Namun, UX membawa proses desain lebih jauh. Misalnya dalam aplikasi marketplace, UI menentukan bagaimana produk, tombol, warna, dan informasi ditampilkan. UX memikirkan bagaimana pengguna menemukan produk, melakukan checkout, memahami navigasi, dan menangani kesalahan. Dengan kata lain: DKV membantu membuat komunikasi visual yang jelas. UX memastikan komunikasi tersebut dapat dipahami dan digunakan manusia.

Dari Good Looking ke Good Working

Bayangkan mahasiswa DKV membuat aplikasi perpustakaan. Secara visual, interface-nya terlihat menarik: warna bagus, typography rapi, dan layout modern. Namun pengguna ternyata kesulitan menemukan tombol “Pinjam Buku”. Secara visual desain tersebut mungkin bagus, tetapi dari sisi UX masih bermasalah. Inilah prinsip penting dalam desain digital: Desain tidak cukup hanya good looking, tetapi juga harus good working.

Contoh Proyek: Aplikasi Event Kampus

Mahasiswa DKV dapat mengembangkan aplikasi event kampus dengan proses sederhana: Research → Problem → User Flow → Wireframe → UI → Prototype → Testing → Iteration.  Misalnya, hasil wawancara menunjukkan bahwa informasi event kampus tersebar di Instagram, WhatsApp, dan poster digital. Dari masalah tersebut dibuat user flow: Home → Explore Event → Detail Event → Register → Confirmation.  Setelah wireframe selesai, mahasiswa mengembangkan interface dengan menentukan typography, color palette, icon, button, card, navigation, dan design system. Prototype kemudian diuji kepada pengguna. Jika ternyata tombol “Daftar” sulit ditemukan, desain diperbaiki berdasarkan hasil testing. Proses tersebut menunjukkan perbedaan sekaligus hubungan DKV dan UI/UX: DKV membangun bahasa visualnya. UX memastikan bahasa tersebut bekerja untuk pengguna.

UI/UX Bukan Sekadar Figma

Belajar UI/UX bukan berarti sekadar belajar menggunakan Figma. Figma memang penting untuk membuat interface dan prototype, tetapi yang lebih penting adalah cara berpikir di balik desain. Prosesnya dapat digambarkan sebagai: User Research → Problem → User Flow → Wireframe → UI → Prototype → Testing → Iteration.  Hal yang sama berlaku dalam DKV. Menguasai Photoshop atau Illustrator tidak otomatis membuat seseorang menjadi desainer yang baik. Tools hanyalah alat. Yang paling penting adalah kemampuan berpikir, menganalisis masalah, dan mengambil keputusan desain.

UI/UX Membutuhkan Cara Berpikir Sistem

Salah satu perbedaan penting antara desain grafis tradisional dan UI design adalah skala. Poster mungkin hanya terdiri dari satu halaman. Sebuah aplikasi bisa memiliki puluhan bahkan ratusan layar yang saling terhubung. Karena itu, UI/UX membutuhkan cara berpikir sistem melalui Design System, misalnya: Color → Typography → Button → Input → Card → Navigation → Components.  Tujuannya menjaga konsistensi desain meskipun produk terus berkembang. Desain tidak lagi sekadar kumpulan elemen visual, tetapi menjadi sistem komunikasi yang saling terhubung.

UX Dimulai dari Pengguna

Dalam UX, desain tidak selalu dimulai dengan membuka software.

Desain bisa dimulai dengan pertanyaan:

  • Siapa penggunanya?
  • Apa masalah mereka?
  • Bagaimana mereka menggunakan produk saat ini?
  • Apa yang membuat mereka kesulitan?

Jawabannya dapat diperoleh melalui wawancara, observasi, survei, dan usability testing.

Cara berpikirnya pun berubah:

Bukan lagi “Saya ingin membuat sesuatu yang bagus.”

Tetapi “Saya ingin membuat sesuatu yang berguna bagi orang tertentu.”

Inilah salah satu inti dari UX.

Apakah Semua Mahasiswa DKV Harus Menjadi UI/UX Designer?

Tidak.

DKV memiliki banyak bidang, seperti branding, advertising, illustration, photography, motion graphics, editorial, packaging, animation, dan digital media.

UI/UX hanyalah salah satu jalur.

Namun, karena semakin banyak komunikasi berlangsung melalui media digital, pemahaman UI/UX dapat menjadi skill tambahan yang memperluas peluang karier mahasiswa DKV.

DKV, New Media, dan AI

Hubungan ini semakin menarik dalam DKV New Media, ketika visual, interaksi, teknologi, dan pengalaman pengguna bertemu.

Mahasiswa dapat menggabungkan:

Visual Design + UI/UX + Motion + Interaction + AI

Misalnya membuat aplikasi edukasi:

  • DKV membangun visual identity.
  • UX merancang user flow.
  • UI membangun interface.
  • Motion menambahkan micro-interaction.
  • AI membantu eksplorasi ide dan visual.

Hasil akhirnya bukan sekadar kumpulan layar, tetapi sebuah digital experience.

Skill yang Perlu Dipelajari

Mahasiswa DKV yang ingin masuk ke UI/UX dapat belajar secara bertahap:

1. Fundamental Visual
Typography, color, layout, composition, dan hierarchy.

2. UI Design
Grid, component, design system, interface, dan responsive layout.

3. UX
User research, user flow, information architecture, dan usability.

4. Prototyping
Membuat prototype dan menguji alur interaksi.

5. Portfolio
Menyusun case study yang menunjukkan masalah, proses, keputusan desain, testing, dan hasil.

Dengan demikian, portfolio tidak hanya menampilkan hasil desain, tetapi juga menunjukkan cara berpikir seorang designer.

Kesimpulan

Hubungan UI/UX dan DKV sebenarnya sederhana:

DKV memberikan fondasi bahasa visual, sedangkan UI/UX memperluasnya menjadi pengalaman digital.

Typography, warna, layout, hierarchy, dan visual storytelling tetap penting. Namun dalam dunia digital, desainer juga perlu memahami pengguna, alur, interaksi, feedback, dan usability.

Jadi, belajar UI/UX bukan berarti meninggalkan DKV.

Justru sebaliknya, UI/UX memperluas wilayah desain:

Dari poster ke interface.
Dari visual ke experience.
Dari “Bagaimana tampilannya?” menjadi “Bagaimana orang menggunakannya?”

Di tengah semakin banyaknya aktivitas manusia yang berlangsung melalui layar, kemampuan memahami keduanya menjadi bekal penting bagi desainer masa kini.