Biar Portfolio DKV Nggak Terlihat Seperti Kumpulan Tugas Kuliah
Pernah buka folder tugas kuliah sendiri dan berpikir, “Kok banyak banget ya… tapi kalau dijadikan portfolio, kenapa rasanya masih kayak tugas?” Saya pernah merasakan hal yang sama. Masalahnya sering bukan karena karya kita jelek. Kita cuma terlalu terbiasa membuat desain untuk memenuhi brief dosen, bukan untuk menunjukkan siapa kita sebagai desainer. Padahal, portfolio seharusnya lebih dari sekadar kumpulan artwork.
Pilih, Jangan Masukkan Semua
Kita nggak perlu memasukkan semua tugas. Lima sampai delapan proyek yang benar-benar kuat jauh lebih menarik daripada 30 karya yang sekadar “pernah dibuat”. Pilih proyek yang bisa menunjukkan kemampuan dan minat kita: branding, UI/UX, motion, editorial, illustration, campaign, sampai creative AI. Coba ganti pertanyaannya. Bukan: “Apa saja yang pernah saya buat?” Tapi: “Karya mana yang paling mewakili saya?”
Ceritakan Prosesnya
Jangan cuma: Brief → Desain → Selesai. Tunjukkan sedikit proses di baliknya. Kenapa memilih konsep itu? Siapa targetnya? Apa masalahnya? Bagaimana eksplorasinya? Moodboard, sketch, wireframe, eksplorasi typography, sampai alternatif konsep bisa membantu. Nggak perlu semuanya. Pilih yang memang punya cerita. Karena orang bukan cuma ingin melihat apa yang kamu desain, tapi juga ingin tahu bagaimana kamu berpikir.
Anggap Tugas Seperti Proyek Nyata
Daripada menulis: “Redesign logo untuk tugas Branding.” Coba: “Rebranding coffee shop lokal untuk menarik konsumen usia 18–25 tahun.” Buat brief-nya seolah-olah benar-benar ada klien. Target audience, problem, objective, positioning, visual direction, sampai deliverables. Dengan sedikit perubahan cara berpikir, tugas kuliah bisa berubah menjadi simulasi proyek profesional.
Jangan Takut Bikin Proyek Sendiri
Belum punya klien? Bikin sendiri. Redesign brand transportasi publik. Bikin konsep aplikasi untuk mahasiswa. Eksperimen campaign menggunakan AI. Buat interactive website. Personal project justru bisa menjadi tempat paling bebas untuk menunjukkan ide, rasa penasaran, dan style kita. Nggak ada dosen yang menentukan brief. Nggak ada nilai. Kita sendiri yang menentukan mau membuat apa.
Portfolio Juga Harus Punya “Desain”
Kadang kita terlalu sibuk memasukkan karya sampai lupa bahwa portfolio itu sendiri adalah desain. Typography, grid, spacing, hierarchy, image treatment—semuanya ikut membentuk kesan. Nggak perlu terlalu ramai. Yang penting konsisten dan terasa seperti satu kesatuan.
Jadi, Portfolio Itu Tentang Apa?
Menurut saya, portfolio yang bagus bukan yang paling banyak isinya.
Portfolio yang bagus membuat orang bisa melihat:
“Oh, ini cara dia berpikir.”
Bukan cuma:
“Oh, ini tugas-tugas yang pernah dia buat.”
Jadi sebelum memasukkan sebuah karya, coba tanya:
Apa yang karya ini ceritakan tentang saya sebagai desainer?
Kalau jawabannya jelas, mungkin karya itu memang layak masuk.
Karena pada akhirnya, portfolio bukan cuma tentang apa yang sudah kita buat.
Tapi tentang desainer seperti apa yang sedang kita coba menjadi.
Comments :